Siapa penemu ilmu tajwid?

Ilmu tajwid mencakup cara membaca huruf bahasa Arab secara benar, menjaga sifat, kekhususan huruf-huruf dan kaedah-kaedah lain yang   berhubungan. Apabila yang dimaksud dengan penemuan ilmu tajwid ini adalah penemuan jenis dialeknya maka hal itu harus dikaitkan dengan seseorang yang menciptakan bahasa Arab. Tentu saja pencipta asli bahasa-bahasa adalah Allah Swt.
Dalam kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu tajwid dikatakan bahwa pencipta ilmu tajwid adalah Nabi Muhammad Saw dimana beliau menerima al-Quran dengan ilmu tajwid yang berasal dari Allah Swt yang kemudian diajarkan kepada kaum Muslimin.[1]
Namun apabila yang dimaksud dengan penemuan ilmu tajwid adalah mengumpulkan dan mengkodifikasi kaidah-kaidah dan ilmu ini, maka harus dikatakan bahwa hal itu terjadi setelah masa bi’tsah Nabi karena tujuan asli ilmu ini adalah membaca al-Quran secara benar dan indah.
Terdapat perkataan terkenal bahwa yang mengumpulkan ilmu tajwid adalah salah seorang murid dan sahabat Imam Ali bernama Abul Aswad Duwali.[2] Abul Aswad Duwali adalah seseorang yang cukup terkenal dan pengikut Syiah yang baik, bahkan dipuji oleh ulama Ahlusunnah. Terkait dengannya dikatakan bahwa ia adalah orang pertama kali yang menerima petunjuk dari Imam Ali untuk mengumpulkan ilmu nahwu dan penamaan ilmu nahwu juga atas pilihan Imam Ali sendiri.[3]
Dzahabi berkata: Ia termasuk pembesar Syiah yang terkemuka dari sisi akal dan dirayah serta lebih mempuni dari semuanya.[4] Sebagian berkata bahwa penemu ilmu tajwid adalah Qasim bin Salam atau Khalil bin Ahmad Farahidi atau tokoh lainnya.[5] Perlu diketahui bahwa Khalil bin Ahmad Farahidi adalah juga tokoh Syiah Imam Ali yang juga membidani ilmu ‘arudh (ilmu  yang mempelajari tentang benar tidaknya wazan syair) dan menemukan ilmu lughat yang sangat luar biasa.[6] Kitab lughat terkenal “Al-‘Ain” adalah karya penting dan terkenal dari Khalil bin Ahmad Farahidi. [iQuest]
 

[1] Marshafi Mesri Syafi’I, Abdul Fatah bin Sayid ‘Ajmi bin Sayid al- ‘Asas, Hidāyah al Qāri ila Tajwid Kalām al-Bāri, jil. 1, hal 46, Madinah, Maktabah Tayibah, cet. 2.
[2] Silahkan rujuk: Tārikh A’rāb, Nuktah wa Alamat Gudzāri dar Qurān Karim, pertanyaan 26268.I
[3] Hidayah al-Qāri, jil. 2, hal. 652.
[4] Dzahabi, Syamsuddin, Sair A’lām al-Nubalā, jil.4, hal. 82, Beirut, Muasasah Al-Risalah, cet. 3, 1405 H.
[5] Aliyullah bin Ali Abul Wafa, Al-Qaul Al-Sadid fi Ilm al-Tajwid, hal. 36, Manshurah, Dar al-Wafa, cet. 3, 1424.
[6] Hidāyah al-Qāri ila Tajwid Kalām al-Bāri, jil. 2, hal. 642.